Aku masih ingat semuanya; meskipun samar-samar, perlahan-lahan detil-nya mulai hilang dari benakku.
Februari 2012
Aku mengikuti sebuah kompetisi seleksi pertukaran pelajar. Ya, hitung-hitung sabtu dan minggu khan, daripada pergi ke warnet buat ngedot (main dota) ya mendingan buat socializing biar ga jadi kuper gitu akunya, kupikir. Aku bertemu dan berkenalan dengan banyak orang-orang baik dan hebat di sana. Ada mahasiswa jurusan sastra inggris yang merangkap sebagai gitaris dan komposer, dia sudah menulis banyak lagu. Ada otaku sastra jepang yang sangat pintar membuat danbo, paham betul dengan budaya-budaya jepang (dari anime sampai ke artis-artis bokepnya), merangkap sebagai penyiar radio. Ada yang pemenang mahasiswa berprestasi dari kampusnya. Ada yang pernah berkali-kali mengikuti pertukaran pelajar ke luar negeri; ada yang sudah berkali-kali menang kompetisi-kompetisi esai, debat, dan pidato.
Saat itu, ketika berkenalan dan berbincang-bincang dengan mereka, yang bisa kubanggakan hanyalah.. err... aku hanya memperkenalkan diri sebagai mahasiswa kuliahan yang kerjanya kuliah-pulang-kuliah-pulang sembari mengajar kursus bahasa inggris sebagai sampingan.
Anyway, setelah nge-add friend orang-orang tersebut di facebook, aku mulai mengenal fanpage ini. Ada foto satire lucu yang di-share dan setelah terbacaku, beberapa menit kemudian aku sudah menge-like dan membaca-baca hampir semua postingan di sana.
Itulah awal ketertarikanku pada dunia politik.
Juni-Juli 2012
Masa kampanye pilgub DKI. Karena sering mantengin fanpage itu, aku mendapati video Jokowi ini dan video Ahok ini (off-note : di video Ahok itu, 1:18 - 1:26 thank me later)
Aku mulai tertarik dengan kedua sosok itu dan mulai aktif mengikuti perkembangannya. Saat menonton video Jokowi itu, yang membuatku kagum adalah pendekatannya dan konsistensinya. Mengundang makan, SAJA, lalu ketika ditanya "mau ngomong apa, pak?" hanya menjawab "ngga, cuma makan-makan aja koq" dan itu sampai 54 kali, lho, menunjukkan bahwa tidak mudah meluluhkan hati para PKL. Aku teringat dengan sosok Liu Bei di 3 kingdoms.
Kemudian melihat Ahok yang kata-katanya adalah basically #yolo #guegatakutmati #kaliankorupsemua di sebuah ruangan penuh dengan hew.. anggota dewan tersebut, aku berpikir, "Wah, Cao Cao dan Liu Bei akhirnya bertemu nih. Sepaket."
(Maaf bagi yang tidak akrab dengan sejarah Tiongkok pada Dinasti Han; http://en.wikipedia.org/wiki/Three_Kingdoms mungkin bisa menjadi referensi)
(Atau, long story short, Cao Cao adalah tipe pemimpin yang sangat keras, beda jauh dengan Liu Bei yang lemah lembut. Cerita inspiratif dari Cao Cao adalah bagaimana beliau itu sangat ditakuti sehingga seluruh jenderal-jenderal tunduk dan tak berani macam-macam terhadapnya. Liu Bei, di lain pihak, sangat simpatik terhadap para bawahannya. Liu Bei adalah orang yang tidak berwibawa.. err... kurang lebih sama kayak Jokowi lha ya, aura pemimpinnya ga nampak. Akan tetapi perhatiannya yang sangat menyeluruh terhadap para jenderalnya membuat para jenderal itu tidak tega mengkhianati Liu Bei. Bahkan pernah ada suatu saat di mana Liu Bei menjenguk DAN merawat jenderalnya sendiri selama 3 hari 3 malam. Hmm.. raja yang merawat jenderalnya yang sakit)
Juli 2012 - September 2012
Pasangan Foke-Nara dan Jokowi-Ahok lolos ke putaran II. Pada masa ini, respect saya terhadap Gerindra dan PDI-P meningkat tinggi. Aku masih ingat bagaimana sebelum putaran I, PKS dan Golkar yang mengusung Hidayat Nur Wahid dan Alex Noordin mencerca pemerintahan incumbent Foke habis-habisan.
Memasuki putaran II, apa yang terjadi? Menjilat saliva sendiri. Malah berkoalisi dengan Foke-Nara. Nah, berhubung karena common enemy mereka bukan lagi Foke-Nara melainkan Jokowi-Ahok sekarang, mulailah you-know-what dilancarkan.
Ketika FUI mengeluarkan fatwa haram memilih pemimpin non-muslim, tentu saja banyak orang yang histeris. Primordialisme agama ternyata masih sangat efektif di negeri ini. Nah, namun, karena saya sudah maklum saja dengan tabiat mereka, saya mulai mengalihkan perhatian saya ke Gerindra dan Prabowo Subianto. Saya kagum dengan sosok Prabowo yang berani mengambil resiko memasangkan Ahok yang kafir dengan Jokowi. Entah pada waktu itu dia #yolo atau dia sangat yakin bahwa elektablilitas Ahok bagus sehingga tidak mungkin menurunkan potensi perolehan suara Jokowi, saya tidak tahu.
Pada masa-masa ini pula banyak gerakan bernada "JOKOWI FOR PRESIDENT" yang bernada satir, karena kata-kata mereka selalu mengatakan "tidak mendukung jokowi pada pilkada dki 2012 kali ini, karena jokowi sebaiknya langsung mencalonkan diri sebagai presiden saja pada pemilu 2014."
Well... I simply dismissed those words as a joke.
September 2012 - Maret 2014
Jokowi dan Ahok menang tipis dan terpilih sebagai gubernur dan wakil gubernur DKI. Mereka membuat banyak gebrakan-gebrakan perubahan. Saya pun sangat tertarik dan selalu memantau akun PemprovDKI di youtube untuk melihat apa-apa saja sih yang baru di Jakarta hari ini.
Euforia kemenangan pemilu DKI mulai sedikit "dikacaukan" dengan banyaknya orang-orang yang meminta Jokowi agar ikut, dan jangan ikut, pilpres. Adanya underground movement bernada "JOKOWI FOR PRESIDENT" tersebut disaingi oleh mereka-mereka yang ingin agar Jakarta diberesi. Bahkan, pernah ada berita yang memuat seorang guru yang rela datang jauh-jauh untuk bertemu Jokowi hanya untuk mengatakan pada Jokowi agar tidak nyapres (aduh linknya mana, ga ketemu T_T)
Jujur, saya mendukung kata-kata guru tersebut. Karena jujur, pada masa-masa ini saya berpikir bahwa masa depan Indonesia sudah bisa ditentukan. DKI sudah pasti akan diurus oleh Jokowi-Ahok sampai 2017, pileg sudah pasti akan dimenangkan oleh PDI-P dan Gerindra berkat wave effect dari pilkada DKI, dan.. pilpres.
Nama-nama yang "digosipkan" akan maju sebagai capres, pada periode ini, err.. bahkan saya sempat berpikir bahwa mereka ini bercanda. Oh please, Rhoma Irama, Aburizal Bakrie, yang benar saja? Hanura lebih keren lagi, pemilu legislatif saja belum diketahui hasil jumlah kursi yang bakalan mereka raih, mereka sudah mencalonkan capres DAN cawapres. Win-HT. Keren. Atau perlu saya ingatkan bahwa nama Farhat Abbas pernah sempat muncul pada era ini?
Nah, pada periode ini, partai dan capres yang terlihat paling solid sebenarnya hanya Gerindra dan Prabowo. PDI-P sendiri galau karena.. let's face it, mereka hanya bisa menjual Jokowi. Puan dan Megawati tidak begitu mempunyai daya jual (meskipun masih lebih oke sih dibandingkan dengan Wiranto Bakrie Ani Ibas)
Sedikit catatan tentang Prabowo dan Wiranto. Kasus HAM yang melanda mereka berdua memang berpotensi membuat elektabilitas turun. Ini, datang dari seorang tionghoa. Mayoritas orang tionghoa (termasuk saya) membenci mereka. Kasus pemerkosaan amoy-amoy tahun '98, pengkambinghitaman kami yang tionghoa yang komunis dan gaya hidup dan berbelanja kami sebagai dalang krisis ekonomi tahun '98, kasus penjarahan rumah-rumah tahun '98, dan ya cukup itu dulu. Akan tetapi kenapa serangan ini terkesan "geli-geli" kepada Prabowo? Pertama, sosok Ahok dan Prabowo yang sama-sama tegas. Rumor yang beredar adalah bahwa bangsa ini masih bandal sehingga perlu dipimpin oleh seseorang yang bertangan besi. Kedua, karena beliau sudah sukses, dan bahkan cukup berani mencalonkan seorang Tionghoa sebagai cawagub DKI. Ahok sendiri mengatakannya, di sebuah video di mana ia berbicara tentang pencalonan dirinya oleh Gerindra. (aduh videonya mana, juga ga ketemu nih T_T)
Sementara Demokrat (mungkin sadar diri juga bahwa pamor partai mereka sudah kelewat hancur) mencoba konvensi partai demokrat dan memperkenalkan nama-nama baru. Syukurlah, nama Ani dan Ibas setidaknya tidak jadi muncul di medan perang ini. Nama-nama yang lebih masuk akal pun akhirnya diperkenalkan, seperti Dahlan Iskan, Anies Baswedan, dan Gita Wirjawan.
AKAN TETAPI!!!
Tiba-tiba PDI-P mengusung Jokowi sebagai capres. Well, shit, pikir saya. Ini sepertinya akan sangat mengubah prediksi. Saya mula-mula menganggap ini sebagai dick move dari PDI-P untuk mendapatkan suara di pileg, (karena, lagi-lagi, yang bisa mereka jual hanya Jokowi). (Tapi ini mungkin hanya sentimen saya semata sih. PDI-P mempunyai caleg-caleg yang cukup bagus dari Dapil-1 Sumut dan Medan)
Prabowo juga panik dan langsung menjerit "jangan memilih capres boneka." Err.. Pra? Kecewa sih boleh saja kecewa pra, tapi masa' perlu sampai segitunya?
Meskipun saya (agak) (sedikit) kecewa dengan pencapresan ini, setidaknya saya bisa mengerti posisi PDI-P yang selain "ingin" suara, mereka juga setidaknya harus "menjawab" permintaan rakyat yang ingin Jokowi menjadi presiden.
Dalam hati kecil saya, saya ingin melihat Jokowi menjadi presiden. Tetapi saya juga mempunyai respect terhadap Prabowo, dan saya juga ingin melihat beliau memimpin. Dalam hati kecil saya, saya ingin melihat mereka berdua maju sebagai pasangan capres-cawapres, tetaapppiiii.....
April 2014 - Juni 2014
PDI-P memenangkan pileg dengan 18,95% (=.=)". Perfect ==". Dengan ini, Jokowi bisa dipastikan akan menjadi capres dan Prabowo bisa dipastikan akan stres. Apabila capresnya Prabowo dan cawapresnya Jokowi, dilihat dari sikon, mustahil. Apabila capresnya Jokowi dan cawapresnya Prabowo, ego Prabowo terlalu tinggi untuk menjadi seorang calon wakil presiden.
"Ah, sudahlah, pikir saya. Coba dilihat saja dulu perkembangannya untuk sementara bagaimana."
Di tengah-tengah kekacauan gosip-gosip yang beredar, harap-harap cemas saya menginginkan Prabowo dan Jokowi agar bisa bersatu. Come to think of it, seandainya itu benar-benar terjadi, sepertinya tidak akan ada pemilu yang dibutuhkan untuk tahun 2014 ini. Karena siapa lagi yang berani mencalonkan diri sebagai pasangan capres-cawapres dari kubu yang berbeda, seandainya hal itu benar terjadi?
Banyak yang terjadi pada bulan Mei yang membuat pandangan saya terhadap Prabowo berubah 180°.
Golkar dengan perolehan suara pada peringkat II, di atas Gerindra tetapi di bawah PDI-P, tidak memiliki kandidat capres dengan elektabilitas yang baik. Bakrie berlari-lari terpontang-panting mengemis koalisi kepada PDI-P dan Gerindra. Harapan saya, waktu itu, Gerindra dan PDI-P yang sama-sama perolehan suaranya kuat, tidak akan menerima partai dan sosok Bakrie yang jelek tersebut. Rasain, mampus lu ditinggal sendirian, pikir saya.
Ehh.. ternyata harga diri Prabowo tidak semahal yang saya kira. Beliau menerima. Well, sheet.
PPP dan Suryadharma Ali sebelumnya telah mendeklarasikan dukungan ke Prabowo. Tak lama kemudian, KPK menetapkan Suryadharma Ali sebagai tersangka kasus korupsi dana ibadah haji. Prabowo bukannya mengambil sikap agak #yolo sedikit, malah mengecam tindakan KPK. I mean, like, seriously? Justru kalau seandainya pada titik ini Prabowo bisa mengatakan bahwa dia tidak akan membela Sayur meskipun mereka berkoalisi, ini adalah publicity stunt yang cukup baik lho. Dan bahkan dapat meningkatkan elektabilitas dia dan menetapkan sosok seorang Prabowo di masyarakat Indonesia sebagai seseorang yang benar-benar tegas dan anti korupsi. Tapi, yeah, yahh, sudahlah.
Kemudian, FPI. Kelompok yang berasal dari syurga ini yang mengetahui secara persis mana yang baik dan yang buruk (berjualan makanan pada masa puasa adalah sesuatu yang buruk, camkan itu). Tak lama setelah kerjasama mereka terbentuk, ketika Prabowo ditanyai tentang keberadaan Syiah dan Ahmadiyah, jawabnya "Kita buat mereka jera." Are you far king kidding me?
Kedatangan partai-partai bermasalah ke kubu beliau yang isinya tak ada satupun orang yang bisa dijual -- Demokrat, PKS, Golkar, PPP, PAN, PBB -- membuat deklarasi pasangan capres-cawapresnya tidak mengejutkan sama sekali.
Alhasil, Hatta Rajasa menjadi cawapres Prabowo. Ya iya lah, wong dari kubumu itu sampah semua. Ya terpaksalah kamu memilih yang agak tidak jorok dari kumpulan sampah-sampah itu.
Seandainya saya menempatkan diri saya dalam sepatu Prabowo, saya juga pasti bakalan kebingungan siapa yang ideal menjadi cawapres saya. Anis Matta? ¯\(°_o)/¯. Bakrie? ¯\(°_o)/¯. SDA? Sudah kena kartu merah dari KPK.
Nah, bagaimana dengan Demokrat? Sayangnya, konvensi Demokrat tidak dilengkapi dengan sebuah sistem, itu pertama. Tidak ada proses eliminasi yang dilakukan pada kandidat-kandidat yang terkesan kurang kompeten. Selain itu, kurangnya pemasaran dan promosi tentang "adanya" konvensi Demokrat ini juga jadinya tidak bisa menyelamatkan Demokrat pada pileg. Apa yang terjadi? Demokrat hilang. Lho, Dahlan Iskan, Anies Baswedan, Gita Wirjawan?
Sekilas mengikuti perkembangan konvensi, dari kesemua peserta, saya hanya bersimpatik kepada sosok Anies Baswedan. Dahlan Iskan adalah menteri gagal yang mencuci tangannya dan pura-pura tidak tahu akan krisis listrik yang dari dulu sudah menimpa Sumut. Gita Wirjawan adalah menteri gagal gagal yang sangat piawai dalam meningkatkan kesejahteraan pedagang bawang dan cabai (dengan cara meningkatkan harga, tentunya).
Jujur saya sangat kecewa ketika Jusuf Kalla yang akhirnya menjadi cawapres mendampingi Jokowi. Ketika Dahlan Iskan dan Anies Baswedan (saya tidak tahu ujung-ujungnya Gita ke mana, sepertinya beliau netral) mendukung Jokowi, harapan saya adalah pasangan Jokowi-Anies yang maju sebagai capres-cawapres.
Anies Baswedan tidak menjadi cawapres Jokowi, namun tetap mendukung beliau. Sangat berbeda jauh dengan Mahfud MD. Orang inilah yang melengkapi "transformasi" saya dari mendukung Prabowo menjadi mendukung Jokowi. Karena tidak kebagian jatah, dan karena sakit hati dengan partainya, meskipun PKB mendukung kubu Jokowi, Mahfud mengikuti Barisan Sakit Hati dan mendukung Prabowo. Murni alasannya, karena dengki terhadap Jokowi. Bukan karena ketertarikan / adanya nilai tambah dari kubu Prabowo. Miris rasanya, padahal Mahfud MD selama ini dikenal sebagai seseorang yang baik.
Ohya, tak lupa, Hary Tanoe. Bergabung dengan NasDem, kemudian karena tidak bisa mendapatkan posisi, bertengkar dengan Surya Paloh, lalu hengkang. Bergabung dengan Hanura, berharap mendapatkan posisi. Hanura gagal total di pileg, sakit hati lagi, dan ketika Hanura menyatakan dukungan kepada Jokowi, Hary Tanoe membangkang lagi dan sendirian mendukung Prabowo. (Respect saya meningkat terhadap seorang Surya Paloh pada titik ini. Beliau berkoalisi dengan PDI-P namun tidak menjadi cawapres Jokowi. Dan setelah kasus Hary Tanoe ini.. seems like he made the right choice after all.)
Koalisi Prabowo sangat bermasalah. Bakrie-Golkar dengan Lapindo, Hatta-PAN dengan kasus migas dan kasus anaknya yang sangat lihai mengemudikan mobil, SDA-PPP dengan kasus haji, Anis-PKS dengan kasus seekor-hewan-mamalia-yang-daging-dan-susunya-berguna-bagi-manusia, Tifatul-PKS dengan komitmennya memberantas pornografi (maksudnya biarlah Tifatulnya sendiri yang terjerumus ke dalam pornografi, tidak apa-apa dia sendiri yang berdosa asalkan seluruh rakyat Indonesia selamat dari pornografi ini), FPI, FUI, dan FBR yang anti-pluralisme.
Selain itu, keberadaan sosok seperti Mahfud MD dan Hary Tanoe juga meyakinkan saya bahwa mereka merapat ke Prabowo bukan karena segi positifnya Prabowo, melainkan karena benci terhadap Jokowi.
Apalagi melihat model kampanye para pendukung Prabowo yang mendukung Prabowo karena tidak ingin memilih Jokowi, bukan karena Prabowonya yang baik.
Kenapa para pendukung Prabowo tidak mengumbar prestasi Prabowo, seperti pencapaiannya di bidang militernya, atau kesuksesannya mengangkat Ridwan Kamil di Bandung dan Ahok di Jakarta? Kenapa para pendukung Prabowo tidak mengangkat sosok Prabowo sebagai seseorang yang tegas dan berani? Kenapa model kampanye timses Prabowo tidak bersifat konstruktif, melainkan malah bersifat agresif dan menyerang kubu Jokowi?
Tahu, 'khan, sifat dasar manusia itu ketika diserang adalah tidak hanya bertahan, namun juga menyerang balik?
Ketika timses Prabowo mengatakan "Kami akan memilih Prabowo, dengan demikian Indonesia kebagian 2 sosok pemimpin yang baik : Prabowo untuk Indonesia, dan Jokowi agar amanah memimpin Jakarta."
Itu serangan, lho. Bukan kampanye konstruktif yang membangun karakter Prabowo. ^_^
Dan ketika kalian menyerang seperti itu, saya juga "terpancing" untuk bertahan. ^_^
Kata-kata tersebut terdengar seperti ini di telinga saya "Bro, bro, tolong donk bro, kasih Prabowo sekalliii aja kesempatan buat memimpin sesuatu; tuh Jokowi khan uda sukses di solo, terus sukses lagi di Jakarta. Nanti kalau dia jadi presiden, sukses lagi di Indonesia-- masa' semua kesuksesan jatuhnya ke Jokowi mulu? Bagi-bagi donk, khan kasihan Prabowonya udah dari 9 tahun yang lalu persiapan, promosi di tv, pasang spanduk, tapi masih aja gagal jadi presiden. Tolong donk bro."
I think I'm standing on the right side, after all.
#salamduajari #JKW4P ✌✌✌
No comments:
Post a Comment